Senin, 17 November 2014

Khas Masakan Mama, Kakak dan Saya

"Pahlawan Kuliner” jadi penasaran juga ada yah pahlawan kuliner...? ehm selama ini saya belum pernah dengar tapi bisa jadi ada. Saya menerka-nerka pahlawan kuliner itu adalah yang menemukan jenis makan ini, yang menemukan rempah-rempah. Saya daripada dilanda rasa penasaran langsung searching di google menuliskan keyword “pahlawan kuliner” tidak menemukan penjelasan tentang pahlawan kuliner atau siapa pahlawan kuliner...? yang muncul hanya festival kuliner dalam rangka hari pahlawan. Menurut saya pahlawan kuliner itu orang yang memasak dengan menyajikan makanan yang enak dan lezat sehingga memanjakan lidah para wisata kuliner. Berbicara soal makanan enak, saya yang paling jago, ya jago makannya kalau masaknya NGGAK...!. Saya kalau ditanya masakan siapa yang paling enak...? saya jawab masakan mama, beneran...!  

Saya 4 bersaudara, kakak pertama cowok, kakak ke 2 dan ke 3 cewek. Mama yang paling enak masakannya di susul dengan kakak ke 2 dan ke 3 barulah saya yang paling terakhir. Jago masak saja belum cukup kalau hasil masakannya nggak enak, yang paling bener itu jago masak dan masakannya enak dan itu mama saya. Selain mama di keluarga yang masakannya enak itu kakak ke 2 dan kakak ke 3, namun dari semuanya itu memuliki karakteristik masing-masing.

Mama
Masakannya pas bumbunya, pas porsinya. Masakan mama yang paling saya suka empal, pokoknya empal buatan mama istimewa deh, selain itu saya suka sayur bening buatan mama, karena mama kalau masak sayur nggak pernah banyak yang penting cukup untuk sekali makan sekeluarga karena kata mama sayur itu nggak bagus kalau sering diangetin, nanti sayurannya keburu layu dan vitaminnya keburu hilang. Kalau saya enak-enak saja, jadinya menu sayur di rumah ganti-ganti. Mama kalau masakannya dibilang enak pasti akan masak itu-itu saja sampai ada yang protes bilang bosen baru akan pindah menu lain.

Kakak ke - 2
Menurut saya keunikan dia bisa masak bahan-bahan yang jarang orang lain masak seperti daun pepaya biasanya pahit tapi dia bisa masak daun pepaya nggak pahit, tumis pepaya muda nggak pahit, sayur jantung pisang dan ternyata setelah dimasak memang enak rasanya. Ciri khas masakan tumis dia adalah lebih berminyak dan rasanya lebih asin daripada masakan mama hehe.

Kakak ke -3
Ini kakak yang nggak bisa masak, cuman bisa masak tongseng kambing karena itu makanan favouritenya. Waktu dia masih belum nikah sepertinya nggak bisa masak biasa-biasanya saja, tenang, santai. Keadaan berubah setelah dia punya anak, dia berubah mulai belajar masak.  Hobinya sekarang searching resep-resep masakan atau kalau mau masak nelpon mama dulu nanya bumbu-bumbunya. Hasil masakannya sekarang sudah lumayan enak tapi tetap saja tidak bisa menandingi enaknya masakan mama, hehee..

Saya
Rupanya saya yang paling payah nggak bisa masak. Selain mie instan, ceplok telor yang bisa dimasak sendiri yaitu tumis daun pucuk labu itupun di bantu mama pas ngasih bumbunya. Pernah ngasih bumbunya sendiri, eh malah keasinan lalu ditambah gula lagi ternyata kemanisan. Ngasih bumbu pada masakan itu perlu percaya diri dan insting kuat suapaya bumbunya pas dan hasilnya enak. Kalau ada yang bertanya-tanya apa itu tumis daun pucuk labu...? daun pucuk labu ditumis dengan sambel oncom. Daun pucuk labu jarang ada di pasar tapi kalau di kampung biasanya masih ada yang jual.    

Dahulu kami dibagi-bagi tugas, kalau saya anak bontot tugasnya ke warung dan ngepel dan bantu potong sayuran tapi itu pun suka salah, disuruh potong wortel yah langsung potong saja, ternyata cara potong wortel ada aturannya tergantung jenis masakannya dulu. Kalau untuk capcai potong wortelnya serong, kalau untuk sayur sop potong wortel bulat. Saya jauh dari rumah sejak kuliah karena ngekos. Kosan saya ada dapurnya tapi itupun masak yang gampang-gampang saja seperti mie instan dan ceplok telor. Jadi kalau masak makanan lain yang ribet banyak macamnya nggak bisa.

Sebenarnya bener kata pepatah kalau cewek harus bisa masak dan cewek ujung-ujungnya ke dapur juga. Saya sekarang masih santai karena belum berkeluarga semuanya masih tergantung diri sendiri. Saya sampai sekarang masih anak kos, sarapan di dekat kantor beli bubur, nasi uduk atau cuman makan roti, makan siang di kantin kantor dan makan malam sesuai selera biasanya beli yang dekat kosan saja. Kalau mau makan enak, makan di mall atau restoran itupun sekali-kali kalau lagi punya uang. Nanti setelah berkeluarga pasti tidak bisa seperti itu terus, tidak bisa makan di luar terus, harus memikirkan yang lain yaitu suami dan anak, kalau makan diluar terus akan ada yang protes bosan makanan luar, akan ada yang protes boros kalau makan di luar terus, TIDAK...! Buru-buru belajar masak, seharusnya dari sekarang saya belajar masak bukan nanti.

Saya dan keluarga bukan yang senang makan diluar, karena lokasi rumah di Cianjur berada di     kampung, jauh dari restoran-restoran seperti di Bogor dan Jakarta. Selain itu acara keluarga selalu dilaksanakan dirumah, mama pasti masak empal, sebagai makanan yang wajib kalau ada acara keluarga. Saat nulis tulisan ini jadi kangen sama empal masakan mama, jadi ingin cepat-cepat pulang ke rumah.   

Dok: Iaalginat
Dok: Iaalginat

Foto diatas bukan foto saat saya mau masak tetapi cuman foto depan booth Saji, diambil saat acara Nova Ladies Fair tahun 2012, ceritanya mau narsis hehe.

8 komentar:

  1. Bener Ia, cewek itu harus bisa masak, walaupun cuma masakan yang nggak pakai ribet :) Saya alami sendiri lho. Kalau kita masak, trus suami tersenyum dan menghabiskan masakan kita, rasanya tuh surgaaaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyah ya mba riski. lia juga suka liat ekspresi mama, kalau masakannya habis sumringah banget tapi kalau masakannya nggak ada yang makan keliatannya suka sedih.

      Hapus
  2. kayaknya tumis daun pucuk labu enak ya. Nunggu Ia masak lagi ah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang nyari daun pucuk labu susah mba, jadi dah lama nggak masak itu lagi

      Hapus
  3. hayo mba lia harus belajar masak loh, *ngomong sama diri sendiri :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya teh masak air dulu za deh hahhaa

      Hapus
  4. whuahaha... aku juga nggak bisa masak :(
    tapi penting banget sih belajar masak.Ayo Lia, belajar dari sekarang, jangan kayak aku. Nyesel, kalo mau masak buat masakan lebaran tiap sebentar telpon Ibu mulu.. Malu-maluin ajah^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belajar masaknya kalau lagi pulang ke rumah za, kalau lagi dikosan males hehee

      Hapus